Bogor, 6 Mei 2026 – Komitmen kemanusiaan kembali ditunjukkan oleh FERADI WPI melalui kegiatan pelayanan rohani yang digelar di Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Rabu (6/5). Kegiatan ini menjadi sorotan setelah mendapat apresiasi langsung dari Ketua Umum FERADI WPI, Donny Andretti.
Kegiatan yang diinisiasi oleh FERADI WPI Jakarta Raya bersama Subur Jaya Lawfirm ini dipimpin oleh Wakil Ketua Umum DPP FERADI WPI, Harriani Bianca Daryana, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD FERADI WPI Jakarta. Turut hadir Pastor Eko Setiadi, ps. Melkianus Reawaruw, Ivone Salim, Ariana Agustina, Adv. Cecilia Natasya Tionardi, Farida Sihotang, Brenda Magdalena Manurung, serta tim paralegal dan asisten advokat.
Suasana ibadah berlangsung penuh kekhidmatan. Dalam momen puji-pujian yang dipimpin oleh Harriani Bianca Daryana, para warga binaan tampak larut dalam penyembahan. Tangis haru pun pecah di antara mereka, mencerminkan sentuhan batin yang mendalam dan kerinduan akan pemulihan hidup.
Firman Tuhan yang disampaikan oleh ps. Melkianus Reawaruw menghadirkan pesan penguatan iman dan semangat baru. Para warga binaan terlihat antusias dan tersentuh, mendapatkan harapan baru dalam menjalani masa pembinaan.
Dalam keterangannya, Harriani Bianca Daryana menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari panggilan moral dan kemanusiaan.
“Kami percaya bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah dan dipulihkan. Kehadiran kami di sini adalah bentuk kasih, bukan penghakiman. Jangan pernah kehilangan harapan, karena masa depan selalu bisa diperbaiki,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga.
“Kesalahan masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Jadikan ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih dekat kepada Tuhan,” tambahnya.
Sorotan utama datang dari Ketua Umum FERADI WPI, Donny Andretti, yang memberikan apresiasi tinggi atas kegiatan tersebut.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Harriani Bianca Daryana dan seluruh jajaran yang telah melaksanakan pelayanan rohani ini. Ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi wujud nyata integritas profesi advokat yang menghadirkan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat, termasuk di dalam lapas,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa peran advokat tidak boleh terbatas hanya pada aspek litigasi, tetapi juga harus menyentuh sisi kemanusiaan dan pemulihan sosial.
“Advokat harus menjadi pelita, bukan hanya di ruang sidang, tetapi juga di ruang-ruang pembinaan seperti ini. Kita hadir untuk memberi harapan, membangun kesadaran, dan menjadi bagian dari perubahan hidup seseorang,” ujar Donny Andretti.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar kegiatan serupa terus diperluas ke berbagai daerah.
“Saya berharap kegiatan seperti ini menjadi gerakan berkelanjutan di seluruh Indonesia. FERADI WPI harus tampil sebagai organisasi advokat yang berintegritas, berempati, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” pungkasnya.
Kegiatan ini menegaskan bahwa pendekatan hukum yang humanis dan spiritual dapat berjalan seiring. Kehadiran FERADI WPI di tengah warga binaan menjadi simbol bahwa harapan selalu ada, dan setiap individu memiliki kesempatan untuk bangkit dan memulai kehidupan yang lebih baik.

















