Kabupaten Malang — Jagat maya dan warga di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang, mendadak dibuat geger oleh sebuah peristiwa yang sulit dicerna logika. Bukan kasus kriminal biasa, bukan pula perkara sengketa tanah atau konflik rumah tangga, melainkan perselisihan yang menyeret isu mistis tentang “tuyul” hingga berujung ke kantor polisi.
Peristiwa unik sekaligus mengundang gelak tawa itu pertama kali ramai setelah diberitakan media lokal KlikNews.Co.Id. Kasus tersebut sontak menjadi bahan perbincangan masyarakat karena dinilai sebagai salah satu sengketa paling absurd yang pernah muncul di tengah kehidupan modern saat ini.
Di tengah era digital, kecanggihan teknologi, hingga maraknya transaksi berbasis kecerdasan buatan, masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai praktik-praktik supranatural demi mencari jalan pintas memperoleh kekayaan. Namun kali ini, praktik mistis tersebut justru memunculkan konflik serius antara “pemesan” dan seorang praktisi spiritual.
Menurut informasi yang beredar, persoalan bermula dari seorang warga berinisial NL yang mengaku kehilangan dua sosok tuyul yang selama ini diyakini menjadi “aset gaib” miliknya. Kehilangan itu membuat NL panik, layaknya seorang pengusaha yang mendadak kehilangan pekerja andalannya.
Dalam kondisi kebingungan, NL kemudian menghubungi seorang praktisi spiritual berinisial JW. Sosok JW disebut-sebut memiliki kemampuan supranatural dan dipercaya mampu “menarik pulang” entitas gaib tersebut melalui ritual tertentu.
Tidak tanggung-tanggung, JW dikabarkan melakukan ritual khusus hingga melakukan perjalanan spiritual ke wilayah Pantai Selatan yang selama ini lekat dengan cerita mistis di masyarakat Jawa. Ritual tersebut disebut sebagai upaya “penjemputan” terhadap dua tuyul yang hilang.
Hasil ritual itu pun diklaim cukup berhasil. Satu sosok tuyul disebut berhasil kembali ke rumah NL. Namun satu lainnya dikabarkan gagal diamankan karena diduga telah “ditangkap” atau dikuasai pihak lain yang juga memiliki kemampuan spiritual.
Cerita yang awalnya terdengar seperti kisah urban legend itu berubah menjadi konflik serius ketika dua minggu berselang NL justru merasa kecewa berat. Pasalnya, tuyul yang berhasil “dipulangkan” tersebut disebut tidak bekerja sebagaimana yang diharapkan.
Alih-alih mendatangkan uang atau keuntungan seperti keyakinan yang dipercayai NL, sosok gaib tersebut justru dianggap tidak produktif. Dalam istilah yang kemudian ramai dibahas warga, tuyul itu disebut “mogok kerja” dan tidak memberikan hasil apa pun.
Situasi itulah yang memicu pertengkaran antara NL dan JW. NL merasa dirugikan karena sudah mengeluarkan biaya besar untuk ritual spiritual tersebut, namun hasilnya dianggap nihil.
Kisah ini pun berkembang liar di masyarakat. Banyak warga yang menyebut kasus tersebut seperti sengketa hubungan industrial versi alam gaib. Bahkan tidak sedikit yang berseloroh bahwa tuyul tersebut mungkin sedang “demo”, “resign”, atau memilih hidup santai tanpa target setoran.
Meski terdengar lucu, konflik itu ternyata benar-benar dibawa ke ranah serius. Perselisihan antara kedua pihak akhirnya dimediasi di balai desa setempat. Aparat desa bersama sejumlah tokoh masyarakat mencoba mempertemukan NL dan JW agar persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
Namun mediasi tersebut dikabarkan berjalan alot. Tidak ditemukan titik temu antara kedua pihak. Situasi bahkan menjadi semakin absurd karena objek sengketa yang diperdebatkan tidak dapat dilihat secara kasat mata.
Warga yang mengetahui adanya mediasi itu mengaku heran sekaligus tak habis pikir. Beberapa di antaranya bahkan menyebut baru kali ini mendengar ada pembahasan serius mengenai “etos kerja tuyul” di forum resmi desa.
Karena tidak menemukan solusi, NL akhirnya membawa perkara tersebut ke pihak kepolisian. Laporan itu disebut diajukan ke .
Langkah hukum tersebut sontak mengundang perhatian luas. Banyak masyarakat mempertanyakan dasar hukum laporan itu serta kemungkinan pasal yang bisa digunakan dalam perkara yang berkaitan dengan praktik supranatural.
Sejumlah warga mengaku terkejut karena persoalan mistis kini bukan hanya menjadi konsumsi cerita warung kopi, tetapi sudah menyeret aparat pemerintahan hingga institusi kepolisian.
“Ini mungkin salah satu kasus paling aneh yang pernah kami dengar. Biasanya orang lapor kehilangan motor atau penipuan online, sekarang yang dipersoalkan malah tuyul tidak bekerja,” ujar seorang warga sambil tertawa.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap hal-hal mistis masih hidup di tengah sebagian masyarakat. Di sejumlah daerah, cerita mengenai pesugihan, tuyul, hingga praktik spiritual tertentu masih dipercaya dan diwariskan secara turun-temurun.
Meski demikian, banyak pihak mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada praktik-praktik yang bertentangan dengan akal sehat maupun norma hukum dan agama.
Pengamat sosial menilai peristiwa ini harus menjadi refleksi bahwa pola pikir instan dalam mencari kekayaan justru bisa menyeret seseorang pada persoalan yang tidak rasional dan berpotensi merugikan diri sendiri.
“Kalau ingin hidup sejahtera, jalan terbaik tetap bekerja keras, membangun usaha, dan mengembangkan keterampilan. Jangan menggantungkan harapan pada praktik-praktik yang tidak bisa dibuktikan secara logika maupun hukum,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Kasus ini juga menjadi gambaran unik bagaimana masyarakat Indonesia masih memiliki irisan kuat antara modernitas dan budaya mistis. Di satu sisi masyarakat hidup di era digital, tetapi di sisi lain kepercayaan terhadap dunia supranatural tetap tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tindak lanjut laporan tersebut. Belum diketahui apakah laporan akan diproses lebih lanjut atau hanya sebatas aduan masyarakat biasa.
Pihak-pihak terkait juga masih memilih irit bicara. NL dikabarkan enggan memberikan banyak komentar melalui pesan singkat dan lebih memilih komunikasi langsung. Sikap itu memunculkan berbagai spekulasi dan candaan di tengah masyarakat.
Di media sosial sendiri, kisah ini sudah berkembang menjadi bahan meme dan humor publik. Banyak netizen membuat istilah-istilah lucu seperti “tuyul freelance”, “pegawai gaib malas kerja”, hingga “makhluk astral anti target”.
Namun di balik sisi humor yang menghibur, peristiwa ini sesungguhnya menyimpan pesan penting tentang pentingnya berpikir rasional, bekerja secara nyata, dan tidak tergoda mencari jalan pintas untuk memperoleh keuntungan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan hidup tidak pernah datang dari praktik-praktik instan yang tidak jelas kebenarannya. Kerja keras, ketekunan, serta usaha nyata tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang aman dan bermartabat.
Kasus “tuyul mogok kerja” di Ngantang ini mungkin akan dikenang sebagai salah satu cerita paling unik tahun 2026. Sebuah kisah yang berada di antara kepercayaan mistis, komedi sosial, dan realitas masyarakat yang masih penuh warna di tengah perkembangan zaman modern.

















