Pelembang – Dr. Vanny Yulia Eka Sari kembali menjadi pusat perhatian dalam dinamika birokrasi penegakan hukum di Sumatera Selatan. Sosok perempuan yang selama ini dikenal aktif, komunikatif, dan tegas dalam membangun hubungan publik kejaksaan resmi dipercaya mengemban amanah baru sebagai Kepala Bagian Tata Usaha pada wilayah Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.

Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat eselon III dan IV tersebut berlangsung khidmat di Aula Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Senin (25/5/2026), dengan dipimpin langsung oleh Anton Delianto mewakili Dr. Ketut Sumedana.
Suasana aula tampak penuh wibawa sejak awal prosesi dimulai. Para pejabat yang dilantik berdiri tegak mengikuti pengambilan sumpah jabatan sebagai simbol kesiapan mengemban amanah baru dalam institusi penegak hukum. Namun di balik formalitas upacara, pelantikan kali ini menyimpan pesan besar tentang regenerasi kepemimpinan, penguatan integritas, serta arah reformasi birokrasi di tubuh kejaksaan.
Nama Dr. Vanny Yulia Eka Sari menjadi salah satu figur yang paling banyak mendapat perhatian. Selama menjabat sebagai Kepala Seksi Penerangan Hukum, ia dikenal luas sebagai sosok yang berhasil menghadirkan komunikasi publik kejaksaan lebih terbuka, cepat, dan humanis.
Di tengah era keterbukaan informasi, Vanny dinilai mampu menjembatani hubungan antara institusi penegak hukum dengan masyarakat maupun media. Ia tidak hanya menyampaikan informasi hukum secara formal, tetapi juga membangun pendekatan komunikasi yang edukatif dan mudah dipahami publik.
Banyak insan media di Sumatera Selatan menilai kehadiran Vanny memberi warna baru dalam pola komunikasi Kejati Sumsel. Ia dikenal responsif terhadap perkembangan isu publik dan aktif menyampaikan edukasi hukum kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan penerangan hukum.
Kini, dengan jabatan baru sebagai Kepala Bagian Tata Usaha, kepercayaan yang diberikan kepadanya dianggap sebagai bentuk pengakuan institusi terhadap kapasitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan integritas yang selama ini ditunjukkan.

Dalam siaran pers resmi Kejati Sumsel disebutkan bahwa pelantikan tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi dan penyegaran organisasi guna memperkuat profesionalisme, efektivitas kerja, serta kesiapan menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks di masa mendatang.
Selain Dr. Vanny Yulia Eka Sari, sejumlah pejabat lain juga turut dilantik dalam rotasi tersebut. Di antaranya Adi Muliawan, Rosmaya, hingga Ekky Rizki Asril.
Rotasi juga menyentuh sejumlah posisi strategis lainnya seperti Dr. Rio Irawan P Halim, Imam Asyhar, hingga Marimbun Hatigoran Panggabean.
Sementara itu, saksi pelantikan pejabat eselon III dihadiri oleh Dr. Mhd. Fatria dan Rudy Hartawan Manurung.
Sedangkan saksi pejabat eselon IV yakni Ory Kurniawan dan Ryan Sumartha Syamsu.
Namun, sorotan utama dalam kegiatan tersebut tidak hanya tertuju pada rotasi jabatan, melainkan juga pesan-pesan moral dan arahan tegas yang disampaikan Kepala Kejati Sumsel, Dr. Ketut Sumedana.

Dalam arahannya, Dr. Ketut Sumedana menegaskan bahwa jabatan di lingkungan kejaksaan bukanlah simbol kekuasaan atau privilese, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Jabatan itu bukan fasilitas untuk dilayani, tetapi amanah untuk melayani. Integritas tidak bisa ditawar. Sekali seorang aparat kehilangan integritasnya, maka hilang pula kepercayaan publik terhadap institusi,” tegas Dr. Ketut Sumedana.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian para tamu undangan dan insan media yang hadir. Dalam suasana yang hening dan penuh penghormatan, pesan itu terasa kuat sebagai pengingat bahwa institusi penegak hukum hanya akan dihormati apabila aparaturnya menjaga kehormatan dan moralitas.
Ketut Sumedana juga mengingatkan bahwa tantangan penegakan hukum ke depan semakin berat dan kompleks. Karena itu, pejabat yang baru dilantik diminta bekerja profesional, adaptif, cepat, dan bersih dari konflik kepentingan.
“Kita harus menjadi aparat penegak hukum yang memberi rasa keadilan, rasa aman, dan rasa percaya kepada masyarakat. Jangan pernah bermain-main dengan kewenangan. Jabatan hanya sementara, tetapi kehormatan dan nama baik akan dikenang selamanya,” ujarnya.
Gaya kepemimpinan Ketut Sumedana selama ini dikenal tegas, disiplin, namun tetap humanis. Ia kerap menekankan pentingnya menjaga marwah institusi dengan kerja nyata dan pelayanan publik yang berintegritas.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan pesan bijak kepada seluruh pejabat yang baru dilantik agar tidak terlena oleh jabatan maupun kekuasaan.
“Jangan pernah merasa paling hebat karena jabatan. Rendah hati adalah kekuatan seorang pemimpin. Ketika masyarakat datang mencari keadilan, hadirkan hati nurani dalam setiap keputusan,” katanya.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat yang kini semakin kritis terhadap lembaga penegak hukum. Publik tidak hanya menuntut penegakan hukum yang tegas, tetapi juga keadilan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Ketut Sumedana pun menekankan pentingnya loyalitas yang benar dalam institusi kejaksaan.
“Loyalitas bukan berarti membenarkan yang salah. Loyalitas sejati adalah menjaga marwah institusi dengan bekerja benar, jujur, dan berani mengambil sikap demi hukum dan keadilan,” lanjutnya.
Pernyataan itu mendapat apresiasi luas karena dinilai mencerminkan komitmen kejaksaan dalam membangun budaya kerja yang bersih dan profesional.
Di sisi lain, figur Dr. Vanny Yulia Eka Sari dianggap menjadi representasi aparatur perempuan yang berhasil menunjukkan dedikasi tinggi di tengah tantangan birokrasi penegakan hukum yang dinamis.
Selama memimpin bidang penerangan hukum, Vanny dikenal aktif membangun edukasi hukum kepada masyarakat melalui pendekatan komunikatif dan modern. Ia juga dinilai mampu menjaga hubungan harmonis dengan insan pers tanpa mengurangi profesionalisme institusi.
Banyak pihak menilai keberhasilan komunikasi publik Kejati Sumsel dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari peran strategis yang dijalankan Vanny.
Kini, dengan jabatan baru sebagai Kepala Bagian Tata Usaha, tanggung jawab yang diemban tentu semakin besar. Posisi tersebut memiliki fungsi penting dalam memastikan tata kelola administrasi, pelayanan internal, serta manajemen organisasi berjalan efektif dan profesional.
Meski demikian, optimisme publik terhadap kepemimpinannya tetap tinggi. Pengalaman di bidang komunikasi kelembagaan dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat sistem birokrasi modern di lingkungan Kejati Sumsel.
Pelantikan pejabat eselon III dan IV kali ini pun menjadi simbol penting bahwa reformasi birokrasi dan penguatan integritas tetap menjadi prioritas utama Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan.
Publik berharap para pejabat yang baru dilantik mampu menghadirkan pelayanan hukum yang lebih transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Bagi Dr. Vanny Yulia Eka Sari, jabatan baru ini bukan hanya bentuk penghargaan atas pengabdian, tetapi juga tantangan baru untuk terus membuktikan dedikasi dan profesionalisme dalam mengabdi kepada negara.
Pelantikan telah usai. Sumpah jabatan telah diucapkan. Namun tugas besar menjaga kepercayaan masyarakat baru saja dimulai.
Dan di tengah momentum itu, pesan terakhir Dr. Ketut Sumedana kembali menggema kuat di Aula Kejati Sumsel:
“Bangun kepercayaan publik dengan kerja nyata, bukan pencitraan. Karena hukum hanya akan dihormati apabila aparatnya menjaga kehormatan.” Pungkasnya.

















