Herry Heryawan dan Misi Besar Pangan Riau: Juara Hari Ini, Siap Hadapi Krisis Global

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

PEKANBARU, JAKARTA — Prestasi Polda Riau sebagai Juara Umum Klaster 3 Program Ketahanan Pangan Polri Tahun 2026 bukan sekadar keberhasilan meraih penghargaan. Di balik kemenangan pada enam kategori, terlihat arah kepemimpinan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan bangsa di tengah perubahan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim dan ancaman terhadap stabilitas pangan nasional.

Penghargaan tersebut diserahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada Irjen Pol Herry Heryawan dalam Awarding Day Apresiasi Kreasi Polri di Grand Ballroom The Tribrata, Jakarta, Selasa malam, 11 Agustus 2026.

Polda Riau menjadi peraih nilai tertinggi di Klaster 3 setelah unggul dalam enam kategori. Capaian itu meliputi Juara II Penambahan Lahan dan Produksi Jagung, Juara II Serapan Jagung Bulog, Juara I Manajemen Media Polda, Juara III Manajemen Media Polres melalui Polres Indragiri Hulu, Juara II Inovasi Polda, serta Juara I Inovasi Polres melalui Polres Kuantan Singingi.

Namun bagi Herry Heryawan, sederet penghargaan tersebut tidak boleh berhenti sebagai prestasi institusi.

Justru sebaliknya, penghargaan harus menjadi alarm untuk bekerja lebih keras.

Sebab, persoalan pangan yang dihadapi Indonesia tidak berdiri sendiri. Dunia sedang memasuki fase penuh ketidakpastian. Geopolitik global berubah cepat, rantai pasok dapat terganggu, harga komoditas berfluktuasi, perubahan iklim semakin terasa, sementara kebutuhan pangan terus meningkat.

Dalam kondisi demikian, ketahanan pangan bukan lagi sekadar urusan pertanian.

Ketahanan pangan adalah ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan pada akhirnya bagian dari ketahanan nasional.

Herry Heryawan membaca ancaman sebelum menjadi krisis

Kepemimpinan Herry Heryawan di Riau memperlihatkan upaya untuk membaca persoalan keamanan secara lebih luas.

Polisi tidak cukup hanya menjaga keamanan ketika persoalan sudah muncul. Institusi kepolisian juga dituntut mampu memahami faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas masyarakat. Pangan adalah salah satunya.

Ketika produksi pangan terganggu, harga naik. Ketika harga naik, daya beli masyarakat tertekan. Ketika distribusi terganggu, keresahan dapat muncul. Jika berlangsung dalam waktu panjang, persoalan ekonomi dapat berkembang menjadi persoalan sosial.

Karena itu, keterlibatan Polri dalam mendukung ketahanan pangan memiliki relevansi strategis.

Herry Heryawan memahami bahwa polisi bukan petani dan tidak mengambil alih tugas pemerintah maupun sektor pertanian. Namun Polri dapat menjadi kekuatan pengaman dan penggerak kolaborasi agar seluruh ekosistem pangan berjalan dalam situasi aman.

Petani bekerja. Polisi menjaga. Pemerintah menggerakkan. Dunia usaha memperkuat. Masyarakat ikut menjaga.

Inilah pola kolaborasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Pesan dan apresiasi Herry Heryawan untuk personel Polri

Kepada seluruh personel Polda Riau dan jajaran Polres, Herry Heryawan menekankan agar penghargaan tidak membuat jajaran terlena.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh. Penghargaan ini adalah hasil kerja bersama. Tetapi jangan pernah menjadikan penghargaan sebagai garis akhir. Jadikan ini energi untuk bekerja lebih keras dan memberikan manfaat yang semakin besar kepada masyarakat.”

Menurutnya, personel Polri harus mampu melihat persoalan bangsa dari perspektif yang lebih luas.

“Polisi masa kini harus mampu membaca perubahan. Tantangan keamanan bukan hanya kejahatan konvensional. Persoalan pangan, lingkungan, ekonomi dan perubahan geopolitik juga dapat memengaruhi stabilitas masyarakat. Karena itu, setiap anggota harus memiliki kepekaan sosial dan kemampuan untuk melihat persoalan sebelum berkembang menjadi gangguan.”

Ia juga mengingatkan jajarannya agar tidak terjebak pada kegiatan seremonial.

“Jangan mengejar seremoni. Kejar manfaat. Jangan hanya mengejar angka, tetapi pastikan ada dampak yang dirasakan masyarakat. Kalau kita turun ke lahan, pastikan petani benar-benar terbantu. Kalau kita menjalankan program, pastikan program itu berkelanjutan.”

Bangun kekuatan bersama

Herry Heryawan juga memberikan pesan kepada pemerintah daerah agar agenda ketahanan pangan tidak dikerjakan sendiri-sendiri.

“Ketahanan pangan tidak bisa dibangun oleh satu institusi. Pemerintah daerah, TNI-Polri, Bulog, dunia usaha, kelompok tani, akademisi dan seluruh stakeholder harus menyatukan kekuatan. Kita boleh berbeda tugas dan kewenangan, tetapi tujuan kita sama, yaitu memastikan masyarakat memperoleh pangan yang cukup dan kehidupan ekonomi yang semakin kuat.”

Menurutnya, koordinasi harus menghasilkan tindakan nyata.

“Jangan berhenti pada rapat dan koordinasi. Setelah duduk bersama, harus ada langkah nyata. Kita harus tahu siapa melakukan apa, di mana, kapan dan apa hasil yang ingin dicapai. Dengan begitu, kolaborasi tidak menjadi slogan, tetapi menjadi kekuatan.”

Ia berharap pemerintah daerah terus memperluas lahan produktif, meningkatkan pendampingan kepada petani dan memperkuat infrastruktur pendukung produksi serta distribusi pangan.

Singkirkan ego sektoral

Herry Heryawan juga menaruh perhatian pada pentingnya sinergi lintas sektoral.

Baginya, tantangan pangan di tengah perubahan global tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan sektoral.

“Kita harus meninggalkan ego sektoral. Jangan bertanya siapa yang paling berperan, tetapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan bersama. Setiap institusi memiliki kekuatan masing-masing. Kalau kekuatan itu disatukan, hasilnya akan jauh lebih besar daripada jika kita bekerja sendiri-sendiri.”

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk membangun sistem ketahanan pangan yang lebih terintegrasi, dari produksi, pengamanan lahan, distribusi, penyerapan hingga pemasaran.

Tumbuh bersama masyarakat

Kapolda Riau juga mendorong dunia usaha agar melihat ketahanan pangan sebagai peluang membangun ekonomi sekaligus bentuk kontribusi terhadap bangsa.

“Dunia usaha jangan hanya melihat pangan sebagai komoditas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional. Investasi yang baik adalah investasi yang membuka lapangan kerja, menyerap hasil produksi masyarakat, meningkatkan teknologi dan menciptakan nilai tambah bagi daerah.”

Menurutnya, keterlibatan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk memperkuat rantai pasok, teknologi pertanian, pengolahan hasil produksi dan akses pasar. Dengan begitu, petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi memiliki kesempatan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.

Pesan kepada masyarakat: ketahanan pangan dimulai dari lingkungan sendiri

Herry Heryawan mengajak agar ketahanan pangan tidak dianggap sebagai tugas pemerintah semata.

“Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Jangan merasa bahwa ini hanya program pemerintah atau Polri. Masyarakat memiliki peran yang sangat besar. Mulailah dari lingkungan sendiri, manfaatkan lahan yang ada, jaga lingkungan dan dukung para petani. Hal-hal kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi kekuatan besar bagi bangsa.”

Ia juga mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga sumber daya alam. Sebab, pangan tidak mungkin dipisahkan dari tanah, air, hutan dan lingkungan.

“Jangan sampai kita mendapatkan keuntungan hari ini tetapi kehilangan masa depan. Tanah harus dijaga, air harus dilindungi dan lingkungan harus dirawat. Ketahanan pangan yang kuat membutuhkan lingkungan yang sehat.”

El Niño, perubahan iklim dan ancaman pangan

Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi Riau yang memiliki pengalaman menghadapi kebakaran hutan dan lahan serta berbagai persoalan lingkungan.

Ancaman El Niño dan perubahan iklim dapat memengaruhi ketersediaan air, produktivitas pertanian dan risiko karhutla. Karena itu, pendekatan pangan dan lingkungan harus berjalan bersamaan.

Herry Heryawan telah mendorong pendekatan Green Policing sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan lingkungan.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi.

Sumber daya alam yang menjadi fondasi produksi juga harus dijaga.

Tanah yang rusak tidak produktif. Air yang tercemar mengancam pertanian. Hutan yang terbakar merusak ekosistem. Dan perubahan iklim yang tidak diantisipasi dapat mengganggu keseluruhan rantai pangan.

Asta Cita harus diwujudkan sampai ke tingkat desa

Program ketahanan pangan Polda Riau juga menjadi bagian dari upaya menerjemahkan agenda besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto ke dalam tindakan nyata.

Kedaulatan pangan tidak cukup dibicarakan di tingkat pusat. Ia harus hadir di desa, di lahan petani, di kelompok tani dan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sinilah Polri memiliki ruang strategis.

Polri dapat memastikan lingkungan keamanan kondusif, membantu membangun sinergi, mengawal distribusi serta mendorong masyarakat untuk terlibat dalam program produktif.

Bagi Herry Heryawan, keberhasilan Asta Cita membutuhkan kerja bersama dan konsistensi.

“Asta Cita tidak boleh berhenti menjadi slogan. Kita harus menerjemahkannya menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Ketahanan pangan harus dibangun mulai dari daerah, mulai dari desa dan mulai dari masyarakat.”

Juara enam kategori bukan akhir perjuangan, Enam kategori yang berhasil diraih Polda Riau menjadi bukti bahwa kerja kolektif mampu menghasilkan prestasi.

Tetapi setelah penghargaan diberikan, pekerjaan yang sesungguhnya justru dimulai. Lahan harus tetap produktif. Petani harus terus didampingi. Produksi harus ditingkatkan. Serapan hasil panen harus diperkuat. Distribusi harus dikawal. Inovasi harus terus berkembang. Dan lingkungan harus tetap dijaga.

Herry Heryawan pun menitipkan pesan kepada seluruh jajaran agar terus menjaga integritas dan kepercayaan publik.

“Jangan pernah lelah berbuat baik untuk masyarakat. Jadilah polisi yang hadir, yang mau mendengar dan yang mampu memberikan solusi. Seragam kita bukan sekadar simbol kewenangan, tetapi amanah untuk melindungi dan melayani.”

Herry Heryawan: Bersiap sebelum badai datang

Pada akhirnya, cara Herry Heryawan melihat ketahanan pangan menunjukkan satu hal penting: Indonesia tidak boleh menunggu krisis datang baru bersiap.

Dinamika geopolitik global tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Fluktuasi ekonomi dunia tidak selalu dapat diprediksi. Perubahan iklim terus berlangsung. Ancaman El Niño dapat datang kembali. Rantai pasok global dapat terganggu sewaktu-waktu.

Tetapi Indonesia dapat memperkuat bentengnya dari dalam. Salah satu benteng terpenting itu adalah pangan.

“Kita mungkin tidak bisa menentukan bagaimana dunia berubah, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita mempersiapkan diri. Karena itu, mari kita perkuat pangan, ekonomi masyarakat dan lingkungan kita. Jangan menunggu krisis untuk bergerak. Persiapkan kekuatan bangsa sejak sekarang.”

Pesan tersebut menjadi refleksi sekaligus arah kepemimpinan Herry Heryawan di Riau.

Penghargaan Juara Umum Ketahanan Pangan Polri 2026 bukan sekadar tentang enam kategori yang dimenangkan.

Lebih jauh, itu adalah momentum untuk menunjukkan bahwa Polri dapat mengambil bagian dalam agenda besar negara tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.

Herry Heryawan sedang mendorong wajah Polri yang adaptif, polisi yang memahami keamanan tidak hanya dari perspektif penegakan hukum, tetapi juga memahami bahwa pangan, ekonomi, lingkungan dan stabilitas sosial merupakan bagian dari keamanan nasional.

Karena pada akhirnya, ketahanan pangan adalah ketahanan bangsa. Dan dari Riau, Herry Heryawan bersama seluruh jajarannya telah memberikan pesan yang tegas:

Juara boleh diraih hari ini. Tetapi menghadapi tantangan masa depan harus dimulai sejak sekarang.

Berita Terkait

Herry Heryawan–Donny Eko, Gerak Cepat Lawan Karhutla dan Lindungi Masyarakat 
AKBP Sepuh Bersama Kompol Teguh, Garda Swasembada Pangan Siak
Misi Kapolda Riau Tembus Kuala Selat, AKBP Donny Kawal Ekspedisi Merah Putih
AKBP Sepuh Gebrak Swasembada Pangan, Polsek Tualang Kawal Jagung dari Tanam hingga Panen
Merah Putih Menggema, AKBP Hidayat Perdana Perkuat Nasionalisme di Kuansing
Satu Pekan Penuh Aksi Nyata, AKBP Hidayat Perdana Tunjukkan Kepemimpinan Tegas, Bijaksana dan Humanis di Kuansing
Sepekan Penuh Aksi! AKBP Donny Eko Listianto Turun Ke Garis Depan, Jaga Rakyat, Lindungi Alam Inhil
Penculikan Aktivis Kesehatan Lebak, Tim Hukum FERADI WPI Adukan Penanganan Kasus ke DPR RI, Kompolnas dan Propam Mabes Polri
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:32 WITA

Herry Heryawan–Donny Eko, Gerak Cepat Lawan Karhutla dan Lindungi Masyarakat 

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:53 WITA

AKBP Sepuh Bersama Kompol Teguh, Garda Swasembada Pangan Siak

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:47 WITA

Misi Kapolda Riau Tembus Kuala Selat, AKBP Donny Kawal Ekspedisi Merah Putih

Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:02 WITA

AKBP Sepuh Gebrak Swasembada Pangan, Polsek Tualang Kawal Jagung dari Tanam hingga Panen

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Herry Heryawan dan Misi Besar Pangan Riau: Juara Hari Ini, Siap Hadapi Krisis Global

Berita Terbaru