“9 Bulan Tanpa Kepastian, Pelapor Kecewa: SP2HP Tak Digubris, Kinerja Penyidik Polres Metro Bekasi Dipertanyakan”

Sudirlam Editor

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

BEKASI – Kekecewaan mendalam dirasakan Hairil Tami, pelapor dalam perkara dugaan penggelapan dengan pemberatan yang ditangani Unit II Harda Polres Metro Bekasi Kabupaten (Cikarang). Hingga memasuki bulan kesembilan sejak laporan dibuat pada 10 September 2025, belum terlihat perkembangan signifikan. Bahkan, permintaan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) terbaru, baik melalui surat resmi maupun pesan WhatsApp, disebut tidak mendapat respons.

Hairil menilai sikap penyidik yang terkesan mengabaikan komunikasi resmi tersebut sebagai bentuk ketidaktransparanan dalam proses penegakan hukum. Ia juga menyayangkan belum adanya tanggapan dari Kapolres Metro Bekasi Kabupaten, Kombes Pol. Sumarni, S.I.K., S.H., M.H., atas surat resmi yang telah dilayangkan oleh kuasa hukumnya.

“Sudah 9 bulan berjalan tanpa kepastian. SP2HP terakhir saya terima Februari 2026. Setelah itu tidak ada lagi perkembangan. Surat resmi tidak dibalas, pesan juga diabaikan. Ini sangat mengecewakan,” ungkap Hairil.

Kuasa hukum pelapor, Advokat Donny Andretti, menegaskan bahwa SP2HP merupakan hak normatif pelapor yang wajib diberikan secara berkala oleh penyidik. Ia menilai adanya indikasi pelanggaran prosedur dalam penanganan perkara tersebut.

“SP2HP bukan sekadar formalitas, melainkan kewajiban hukum penyidik sebagai bentuk transparansi. Jika ini terus diabaikan, kami siap menempuh pengaduan ke Propam sebagai mekanisme pengawasan internal,” tegasnya.

Dasar Hukum yang Diduga Berpotensi Dilanggar

Situasi ini memunculkan dugaan pelanggaran terhadap sejumlah ketentuan hukum dan peraturan internal Kepolisian, di antaranya:

1. Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana

Pasal 10 ayat (1) mengatur bahwa penyidik wajib memberikan SP2HP secara berkala kepada pelapor.

Potensi pelanggaran: Tidak diberikannya SP2HP secara rutin.

2. Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana

Menekankan prinsip profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas.

Potensi pelanggaran: Lambannya penanganan perkara tanpa kejelasan.

3. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Menjamin hak pelapor untuk memperoleh kepastian hukum.

Potensi pelanggaran: Penundaan proses penyidikan tanpa alasan yang jelas.

4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

Pasal 13 dan 14 menegaskan tugas Polri dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.

Potensi pelanggaran: Tidak optimalnya pelayanan terhadap pelapor.

5. Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri

Mengatur kewajiban anggota Polri untuk bertindak profesional dan responsif.

Potensi pelanggaran: Dugaan pengabaian komunikasi resmi dari masyarakat.

Ancaman Sanksi

Apabila dugaan pelanggaran terbukti, oknum penyidik dapat dikenakan sanksi sebagai berikut:

Sanksi Disiplin (PP No. 2 Tahun 2003)

Teguran tertulis, penundaan kenaikan pangkat, hingga penempatan khusus.

Sanksi Kode Etik Profesi Polri

Pernyataan tidak puas, mutasi demosi, hingga pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).

Sanksi Pidana

Berdasarkan Pasal 421 KUHP tentang penyalahgunaan wewenang oleh pejabat, dengan ancaman pidana penjara hingga 2 tahun 8 bulan (jika terbukti ada unsur penyalahgunaan kekuasaan).

Sorotan terhadap Transparansi Penegakan Hukum

Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut prinsip dasar penegakan hukum, yakni transparansi dan akuntabilitas. Tidak adanya respons terhadap permintaan SP2HP dinilai dapat mencederai kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari penyidik Aipda Akhmad Rifai maupun Kapolres Metro Bekasi Kabupaten.

Redaksi membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak terkait sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

(Tim)

Berita Terkait

Kapolda Riau Warning Keras Anggota: Terlibat Narkoba Tak Ada Ampun
Soegiharto Santoso Dukung Polri Ungkap Tuntas Dugaan Penyalahgunaan Sistem Penyadapan
Polri Gelar Dialog Penguatan Internal, Perkuat Kolaborasi Rawat Ruang Informasi Publik
HUT ke-75, Kadivhumas Tegaskan Pentingnya Sinergi dengan Insan Pers dan Masyarakat
Divpropam Mulai Periksa Mantan Kapolda Sumsel dan Tiga Pejabat Utama
AKBP Donny Eko Listianto Bergerak: Berantas Kejahatan, Kawal Pangan dan Lindungi Masyarakat
Kepemimpinan Kapolres Siak Bersama Kapolsek Tualang, Kamtibmas Terjaga, Ketahanan Pangan Diperkuat
Kapolda Lampung dan PPWI Sepakat Perkuat Sinergi, Pengamanan HUT ke-19 Jadi Perhatian
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 10:19 WITA

Kapolda Riau Warning Keras Anggota: Terlibat Narkoba Tak Ada Ampun

Kamis, 5 November 2026 - 10:06 WITA

Soegiharto Santoso Dukung Polri Ungkap Tuntas Dugaan Penyalahgunaan Sistem Penyadapan

Kamis, 5 November 2026 - 09:27 WITA

Polri Gelar Dialog Penguatan Internal, Perkuat Kolaborasi Rawat Ruang Informasi Publik

Rabu, 4 November 2026 - 08:03 WITA

HUT ke-75, Kadivhumas Tegaskan Pentingnya Sinergi dengan Insan Pers dan Masyarakat

Rabu, 4 November 2026 - 07:08 WITA

Divpropam Mulai Periksa Mantan Kapolda Sumsel dan Tiga Pejabat Utama

Berita Terbaru