Musi Banyuasin, Sumatera Selatan — Duka menyelimuti warga Transmigrasi Air Balui, tepatnya di Blok SP 2, pada Selasa (28/4/2026). Namun di tengah suasana haru tersebut, hadir sosok yang begitu dekat dengan masyarakat: Taswin, Sekretaris Desa Air Balui.
Kehadirannya bukan sekadar menjalankan tugas formal sebagai aparatur desa, melainkan wujud nyata pengabdian seorang pelayan publik yang humanis, religius, tegas, dan penuh kepedulian sosial.

Peristiwa bermula ketika seorang warga meninggal dunia dan harus dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) wilayah SP 1. Situasi menjadi pilu lantaran kondisi infrastruktur jalan yang rusak membuat kendaraan tidak dapat melintas. Tanpa pilihan lain, warga terpaksa memikul jenazah sejauh kurang lebih 8 kilometer dengan berjalan kaki, sepanjang jalan.
Prosesi itu bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menghadirkan potret nyata keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat desa. Di tengah segala kekurangan, solidaritas warga menjadi kekuatan utama. Secara bergantian, mereka mengangkat keranda, melangkah perlahan namun pasti, dengan keikhlasan yang menyentuh, meski diiringi rasa lelah dan duka mendalam.
Di tengah perjalanan panjang penuh haru itu, kehadiran Taswin menjadi simbol kepemimpinan yang hidup dan membumi. Ia tidak sekadar hadir sebagai pejabat desa, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan beban yang sama.

Sejak pagi hari, Taswin telah berada di rumah duka. Dengan penuh empati, ia menyapa keluarga yang ditinggalkan, memberikan penguatan moral, serta membantu mengoordinasikan proses pemakaman. Tak ada jarak antara dirinya dan warga, ia hadir dengan kesederhanaan dan ketulusan.
Ia turut berdiri dalam barisan shalat jenazah, menundukkan kepala dalam doa, dan larut dalam suasana duka. Saat prosesi pengantaran dimulai, Taswin tidak hanya berjalan mengiringi, tetapi juga ikut memikul keranda bersama warga.
Tindakan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.
“Beliau bukan hanya Sekdes, tapi seperti keluarga bagi kami. Selalu hadir di saat-saat sulit,” ujar seorang warga dengan suara bergetar.
Namun di balik kebersamaan itu, tersimpan persoalan serius yang telah lama dirasakan warga: buruknya infrastruktur jalan dan berbagai persoalan pelik lainnya menumpuk. Setiap kali ada warga meninggal dunia, penderitaan yang sama harus kembali dialami.

“Kami tidak punya pilihan. Mobil tidak bisa masuk. Jalan rusak parah. Kami sudah 14 tahun harus jalan kaki sambil memikul jenazah sejauh itu, ini masih mending tidak musim hujan, kalau hujan licin berlumpur pak.” ungkap warga lainnya.
Masyarakat sebenarnya memiliki harapan yang sederhana. Mereka menginginkan agar Jalan segera diperbaiki (betonisasi) dan perbaikan adanya lokasi pemakaman yang lebih dekat, sekitar 2 kilometer dari Blok SP 2, dapat segera difungsikan. Namun hingga kini, lokasi tersebut belum bisa digunakan secara optimal karena belum adanya penimbunan dan perbaikan akses.
“Kalau yang dekat itu bisa dipakai, kami tidak perlu lagi memikul jenazah sejauh 8 kilometer pak. Dua kilometer itu masih manusiawi,” kata warga.
Menanggapi hal tersebut, Taswin menyampaikan sikap terbuka sekaligus komitmen untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.
“Kita lihat kondisi keuangan desa, Pak. Jika memungkinkan, insyaallah akan kami upayakan. Kami memahami apa yang dirasakan masyarakat. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal martabat. Aspirasi ini akan terus kami perjuangkan agar segera ada solusi nyata,” ujarnya tegas.
Taswin dikenal sebagai sosok yang tidak hanya bekerja di balik meja. Ia aktif turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan warga, dan berupaya mencarikan solusi nyata. Kedekatan emosionalnya dengan masyarakat menjadikannya figur yang disegani sekaligus dicintai.
Ia hadir dalam setiap dinamika kehidupan warga, baik dalam kebahagiaan maupun dalam duka. Ketegasannya dalam menjalankan pemerintahan desa juga tercermin dari komitmennya menjaga pelayanan publik yang adil, transparan, dan akuntabel.
Bagi warga Air Balui, Taswin bukan sekadar aparatur desa, tetapi simbol kepedulian dan harapan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan belum sepenuhnya merata. Infrastruktur bukan hanya soal akses ekonomi, tetapi juga menyangkut nilai kemanusiaan, bahkan hingga pada proses terakhir kehidupan seseorang.
Di penghujung prosesi pemakaman, setelah jenazah dimakamkan dengan khidmat, Taswin masih menyempatkan diri berbincang dengan warga. Ia mendengarkan setiap keluhan, mencatat aspirasi, dan kembali menegaskan komitmennya.
“Kami tidak akan tinggal diam. Ini tanggung jawab bersama, dan kami akan berusaha semaksimal mungkin agar kondisi ini bisa segera diperbaiki,” katanya.
Senada dengan itu, Kepala Desa Air Balui, Amrullah, turut menunjukkan empati dan komitmen kuat dalam menyikapi persoalan ini. Ia menyatakan siap mengambil langkah konkret bersama perangkat desa dan BPD.
“Nanti segera kami musyawarah dengan perangkat desa bersama BPD untuk menentukan langkah terbaik,” ujarnya.
Amrullah juga berjanji akan memfasilitasi pertemuan antara perwakilan masyarakat dengan Bupati Musi Banyuasin agar persoalan ini mendapat perhatian langsung di tingkat kabupaten.
“Saya akan agendakan pertemuan dengan bupati. Nanti saya antar langsung perwakilan masyarakat agar bisa menyampaikan aspirasi mereka,” tegasnya saat ditemui di kediamannya (16/4/).
Meski perubahan belum bisa terjadi secara instan, kehadiran pemimpin yang peduli, responsif, dan mau turun langsung ke lapangan menjadi harapan besar bagi masyarakat.
Kisah ini bukan sekadar tentang pemakaman. Ini adalah potret nyata kemanusiaan, solidaritas, dan harapan akan perubahan yang lebih baik bagi warga Air Balui.

















