Jakarta – Di tengah meningkatnya ancaman siber global yang semakin kompleks dan berbahaya, sosok Ir. Soegiharto Santoso, SH atau yang akrab disapa Hoky kembali tampil sebagai figur sentral dalam mendorong percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS). Sebagai Ketua Umum APKOMINDO dan APTIKNAS, serta Sekretaris Jenderal PERATIN, Hoky tidak hanya dikenal sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai figur humanis yang dekat dengan masyarakat, tegas dalam prinsip, religius dalam nilai, serta bijaksana dalam mengambil keputusan.
Dorongan percepatan RUU KKS ini mencuat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi ancaman siber global, termasuk insiden dugaan sabotase siber terhadap infrastruktur internet di Iran yang menjadi sorotan dunia. Peristiwa tersebut dinilai sebagai sinyal serius bahwa perang modern kini telah bergeser ke ranah digital, menjadikan keamanan siber sebagai isu strategis nasional.
Dalam keterangannya di Jakarta, Hoky menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lengah menghadapi dinamika tersebut. “Apa yang terjadi di Iran benar merupakan wake-up call bagi kita semua. Ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan ancaman nyata terhadap kedaulatan digital bangsa. Negara harus hadir memberikan perlindungan melalui regulasi yang kuat dan sistem yang tangguh,” tegasnya.
Sebagai pemimpin yang dikenal luas karena kepeduliannya terhadap masyarakat, Hoky tidak hanya berbicara dalam kerangka teknis, tetapi juga menempatkan keamanan siber sebagai bagian dari perlindungan hak rakyat. Baginya, keamanan digital adalah bagian dari keadilan sosial di era modern.
“Kita tidak boleh membiarkan rakyat menjadi korban dari lemahnya sistem. Setiap transaksi digital, setiap data pribadi, setiap layanan publik berbasis teknologi harus dijamin keamanannya. Negara wajib hadir, bukan sekadar sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung,” ujar Hoky dengan nada tegas namun penuh empati.
Sosok Hoky memang dikenal memiliki karakter kepemimpinan yang kuat namun humanis. Dalam berbagai kegiatan organisasi maupun sosial, kehadirannya selalu dinantikan masyarakat. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat organisasi, tetapi sebagai figur yang mendengar, memahami, dan memberikan solusi.
Di balik ketegasannya dalam isu strategis, Hoky juga dikenal religius dan menjunjung tinggi nilai moral dalam setiap langkahnya. Ia kerap menekankan bahwa integritas adalah fondasi utama dalam membangun bangsa, termasuk dalam dunia digital.
“Teknologi tanpa moral hanya akan menjadi alat kehancuran. Maka pembangunan digital harus diiringi dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas. Kita ingin Indonesia maju, tetapi juga bermartabat,” tuturnya.
Ancaman siber yang berkembang saat ini memang tidak lagi sederhana. Serangan telah berevolusi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), menyasar Infrastruktur Informasi Kritikal (IIK) seperti sektor energi, transportasi, kesehatan, hingga sistem keuangan. Gangguan pada sektor-sektor ini dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.
Melihat kondisi tersebut, Hoky menilai bahwa RUU KKS bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan keharusan yang tidak bisa ditunda. Ia menyebut regulasi ini sebagai fondasi utama dalam membangun ketahanan siber nasional yang kuat dan berdaulat.
“Tanpa payung hukum yang jelas dan kuat, kita akan terus berada dalam posisi rentan. RUU KKS adalah perisai utama bangsa di era digital. Ini tentang masa depan Indonesia,” tegasnya.
Lebih jauh, Hoky menjelaskan bahwa RUU KKS memiliki peran strategis dalam berbagai aspek, mulai dari perlindungan masyarakat, penguatan infrastruktur kritis, hingga mendorong kemandirian teknologi nasional. Ia juga menyoroti pentingnya audit keamanan terhadap perangkat digital, terutama yang berasal dari luar negeri, guna mencegah potensi ancaman tersembunyi seperti backdoor dan botnet.
Dalam gaya kepemimpinan yang inklusif, Hoky juga aktif membangun kolaborasi lintas sektor. Ia mendorong sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan.
“Keamanan siber bukan tanggung jawab satu lembaga. Ini tanggung jawab bersama. Kita harus bersatu, bergerak bersama, dan saling menguatkan. Tidak boleh ada ego sektoral dalam menjaga kedaulatan digital,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif nyata, termasuk penyelenggaraan roadshow nasional bertajuk “AI Driven Secure & Efficient: Engineering the Digital Transformation Blueprint” di 10 kota, serta agenda besar National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 yang akan digelar di Jakarta.
Namun di balik berbagai agenda strategis tersebut, yang membuat Hoky disegani bukan hanya kapasitas intelektualnya, tetapi juga keteladanan sikapnya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tidak berjarak dengan masyarakat, mudah ditemui, dan selalu membuka ruang dialog.
Dalam setiap kesempatan, Hoky juga kerap memberikan nasihat yang sederhana namun bermakna mendalam.
“Jangan pernah takut untuk benar, dan jangan pernah ragu untuk membela kepentingan rakyat. Jabatan itu amanah, bukan kehormatan semata. Kalau kita tidak bisa memberi manfaat, maka kita telah gagal menjalankan tanggung jawab,” pesannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi era digital yang penuh tantangan.
“Anak-anak muda Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kuasai teknologi, tapi jangan kehilangan jati diri. Bangun inovasi, tapi tetap berpegang pada nilai bangsa,” ujarnya.
Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, Hoky hadir sebagai sosok yang mampu menjembatani antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan. Kepemimpinannya mencerminkan keseimbangan antara ketegasan dan kepedulian, antara visi besar dan sentuhan personal.
Masyarakat pun menaruh harapan besar terhadap sosoknya. Tidak sedikit yang melihat Hoky sebagai figur pemimpin masa depan yang mampu membawa Indonesia menuju kedaulatan digital yang sesungguhnya.
Menutup pernyataannya, Hoky kembali menegaskan pentingnya percepatan pengesahan RUU KKS sebagai langkah strategis bangsa.
“Ini bukan soal cepat atau lambat, tapi soal keselamatan bangsa. Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi krisis baru bergerak. Kita harus siap sebelum ancaman datang. Indonesia harus berdiri tegak sebagai negara digital yang berdaulat, aman, dan bermartabat,” pungkasnya.
Dengan komitmen, integritas, dan kepemimpinan yang humanis, Hoky tidak hanya menjadi penggerak organisasi, tetapi juga penjaga harapan masyarakat dalam menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks.

















