KAMPAR, KLIKNUSA.id — Setiap hektare kebun nanas di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, mampu menghasilkan sekitar 19 ribu buah. Dengan harga jual Rp6.000 per buah, perputaran uang dari komoditas ini terbilang besar. Namun di balik angka produksi itu, para petani hidup dalam ketidakpastian, sebab lahan yang mereka garap bukan milik sendiri.
Kondisi tersebut disampaikan langsung oleh Sendo Naminrova, petani nanas berusia 61 tahun, saat bertemu Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Jumat, 17 Januari 2026 seperti dikutip Kliknusa.id dari kedai online InsertRakyat.com, Senin, (19/1/2025).
Sendo mengatakan, di Desa Rimbo Panjang terdapat sekitar 108 hektare lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya nanas. Namun lahan itu merupakan milik pihak lain yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
“Yang kami garap bukan tanah pribadi. Hanya pinjam pakai,” kata Sendo.
Di desa yang berada di Kecamatan Tambang tersebut, terdapat 38 petani nanas. Dari hasil bertani nanas itulah mereka membiayai kebutuhan hidup, termasuk pendidikan anak-anak.
“Dari menanam nanas ini kami bisa menyekolahkan anak-anak,” ujar Sendo.
Meski produksi stabil, para petani berharap pemerintah memberi solusi terkait status lahan yang mereka kelola. Mereka khawatir kehilangan sumber penghidupan jika pemilik lahan menarik kembali hak pemanfaatannya.
Menanggapi hal itu, Viva Yoga Mauladi menyatakan bahwa persoalan kepemilikan dan penguasaan lahan menjadi perhatian pemerintah. Ia menyebut reforma agraria sebagai salah satu amanat Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Transmigrasi.
“Tanah yang diberikan kepada rakyat bukan hanya tempat bercocok tanam, tetapi sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan,” kata Viva Yoga. Ia menambahkan, masyarakat yang belum memiliki lahan dapat mengikuti program Transmigrasi Karya Nusa atau transmigrasi lokal.
Viva Yoga juga menyebut Kabupaten Kampar sebagai salah satu sentra utama nanas di Riau. Tiga desa—Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas—memiliki hamparan kebun nanas dengan luas mencapai ribuan hektare.
Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas bertema Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi. Festival ini menampilkan berbagai produk olahan nanas, mulai dari sirup, dodol, keripik, hingga jajanan tradisional.
Selain festival, Kementerian Transmigrasi juga meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris di kawasan BPPMT Pekanbaru. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pelatihan budidaya dan pengolahan nanas, sekaligus bagian dari rencana pengembangan rumah produksi nanas.
Usai peresmian, Viva Yoga bersama Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir melakukan penanaman bibit dan panen nanas secara simbolis. Viva Yoga menyebut nanas memiliki nilai ekonomi yang luas, tidak hanya sebagai buah konsumsi.
“Buah dan daunnya bisa dimanfaatkan untuk sirup, wine, pupuk, kosmetik, bioetanol, hingga serat kain,” ujarnya.
Menurut Ahmad Syahir, nanas dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan tandus, gersang, gambut, dan tanah kurang subur. Karena itu, komoditas ini dikembangkan di seluruh wilayah kerja BPPMT Pekanbaru yang mencakup Sumatera, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
“Nanas kami tetapkan sebagai produk unggulan dan maskot BPPMT Pekanbaru,” kata Syahir.
Sendo menambahkan, varietas nanas moris memiliki keunggulan rasa manis, aroma harum, tahan hama, dan mampu bertahan hingga satu pekan setelah dipetik.
Dari Kampar, nanas tak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga pintu masuk bagi pembahasan yang lebih besar: soal reforma agraria, kepastian lahan, dan masa depan ekonomi kawasan transmigrasi.
(Romi).

















